Hanya karena kamu bisa, bukan berarti kamu harus!

Hanya karena kamu bisa, bukan berarti kamu harus!

Suatu saat kita mungkin akan berada pada posisi dimana kita harus mengatakan tidak pada suatu hal. Misalnya saja pada teman kita yang suka minta tolong buatin gambar gratis, sama teman kita yang suka basa-basi minta oleh-oleh kalau kita jalan-jalan ke luar kota, atau bahkan terhadap orang tua kita yang memaksakan kehendaknya untuk menikahi doi.. ehh.

Flash back

Kalau tidak salah, satu-dua tahun lalu saya membaca kutipan ini dari sebuah laman yang menyediakan software plugin berbasis open-sourceclipboard.js. Kira-kira begini isi lamannya:

just because
Gambar oleh Confucius.ID

Pada awalnya saya tidak begitu peduli dengan kalimat tersebut (waktu itu lagi kejar deadline, hehe). Namun, setelah dua-tiga kali mengunjungi situs tersebut, alih-alih melihat dokumentasi plugin, saya sedikit termenung kecil di dalam hati dan berkata, what the hell happen to you, guys!

Awalnya..

Just because you can doesn't mean you should, pada awalnya saya masih kurang paham dengan maksud penulis kalimat tersebut. Lagipula, kenapa tidak kita lakukan saja kalau kita bisa? Benar bukan?

Misalnya saja, kalau kita bisa membantu orang lain yang kesulitan menyeberang jalan, tinggal kita bantu saja untuk menyeberang jalan? Kalau kita bisa membantu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, bagi negara, lebih-lebih bagi dunia, kenapa tidak kita lakukan saja, bukan?

Pada satu masa

Prinsip berbaik hati kepada orang tersebut berlangsung cukup lama hingga kesadaran itu muncul

Sebenarnya, sebelum mendapatkan beberapa kesimpulan mengenai kenapa tidak harus kita lakukan, saya melakukan beberapa hal menarik (sebut saja penelitian kecil) untuk sampai pada pemahaman ini. Penelitian ini saya lakukan atas dasar rasa bosan yang menghantui dan juga satu dan lain hal (pengen tahu gak? wkwk). Penelitian ini saya lakukan terhadap beberapa kelompok kategori manusia yang pada awalnya saya berharap akan terdapat perbedaan yang signifikan pada masing-masing kategori tersebut. Kira-kira begini hal yang saya lakukan:

Kelompok kecil

Waktu itu, tepatnya 20 September 2017 saya mulai melakukan permainan kecil-kecilan dalam rangka belajar pengetahuan umum tentang agama dan melatih kids-kids untuk ikut Cerdas Cermat. Permainan diadakan selama 8 bulan berturut-turut (27 April 2018) dengan secara rutin hampir setiap hari saya memberikan soal. Setiap akhir bulan, peserta yang menjawab soal dengan benar terbanyak akan mendapat hadiah berupa stiker yang bisa digunakan untuk chatting (temen-temen juga udah tau kan stiker line?).

Sekilas, tidak ada hal menarik yang bisa ditarik dari hal tersebut. Peserta cukup antusias untuk menjawab pertanyaan (meskipun hanya 3-5 peserta yang rutin). Sampai tibalah saatnya pemberian hadiah berlangsung di akhir bulan. 

Dari seluruh partisipan yang memenangkan permainan, hampir 50% nya mengucapkan sepatah kata saat diberikan stiker sebagai hadiah. Hasil yang cukup baik mengingat permainan tersebut dimulai dengan tiba-tiba tanpa direncanakan terlebih dahulu. Dari learning ini saya mendapatkan dua hal menarik: pertama, kenapa 50% sisanya tidak mengucapkan sepatah kata?, kedua dari 50% yang mengucapkan sepatah kata tidak ada satupun yang berbalas.

Rekan kerja

trust systems lol
Gambar oleh: Confucius.ID

Banyak cerita yang bisa saya ceritakan mengenai rekan kerja, namun cerita ini yang cukup menarik dan akhir-akhir ini baru terjadi. 
Pada awalnya saya mengira kalau dengan uang, orang mungkin bisa lebih termotivasi untuk bekerja, seperti yang dikatakan dalam teori motivasi klasik. Mengingat, kalau mengerjakan tugas yang tidak ada uangnya, ujung-ujungnya hanya bercela

Mungkin benar dengan uangnya, namun tidak dengan bekerjanya.

Memang pada dasarnya orang lebih memilih konsep,kalau bisa bekerja sedikit dan mendapat penghasilan besar, kenapa tidak? atau yang lebih digembor-gemborkan dengan istilah bekerja cerdas. Mungkin benar, atau mungkin juga tidak.
Namun setidaknya dari pengalaman tersebut ada learning yang saya dapat: pertama, persetan dengan system trust wkwkkw!kedua, dia padahal bisa saja mengeluarkan uang sisa pembayaran (yang menurut saya tidak seberapa) alih-alih meningkatkan kinerja dan kepercayaan, namun sayangnya tidak ia lakukan.

Baru kenal

Beberapa kali saya jalan keluar untuk sekadar bertemu atau membantu orang yang baru saya kenal, baik itu client, orang di tempat yang baru saya datangi, ataupun orang yang saya temui di jalan. Hasilnya cukup jauh lebih baik dibandingkan dua hal sebelumnya (kelompok kecil dan rekan kerja). 

Pertemuan saya dengan client pertama saya cukup menarik. Dia bukan seorang yang kaya ataupun pintar, just ordinary person (dia yang bilang demikian wkwk), usianya sepertinya lebih tua 2-3 tahun diatas saya. Pertemuan berlangsung di sebuah mini-market dan dia datang lebih dahulu dibanding saya dengan menyediakan dua botol minuman untuk kami minum bersama.

Hal yang menarik terjadi saat ada pegawai mini market yang menawarkan kami promosi sosis bakar, dia menawarkan namun saya tolak. Pada akhirnya dia tetap membeli sosis tersebut beserta bagian untuk saya. Hingga sampai akhir perbincangan kami, saya tetap tidak ambil sosis itu (padahal pengen tapi udah kenyang). Lalu... dia makan sosis tersebut, lol wkwk. Tidak ada yang menarik ya? Hmm, harusnya saya foto waktu itu sikapnya yang konyol, hahaha.

Pertemuan saya dengan orang lain yang baru saya kenal juga cukup menarik. Waktu itu kami pergi jalan-jalan sekadar menghabiskan waktu liburan ingin mengetahui diri satu sama lain. Seperti biasa, saat baru kenal dengan orang lain sifat jaga image masih kental rasanya. Saya paham, oleh karena itu saya sengaja biarkan mengalir, misalnya saja berlagak keren dengan membayar semua keperluan jalan-jalan. Hingga, yang saya tunggu-tunggu tiba. Udah yang ini mah jangan dibayarin.... nanti uangnya habis yess akhirnya tiba juga pintu keluar, wkkw.

Learning yang saya dapat adalah: pertamadari client tersebut meskipun kondisi keuangannya pas-pasan, namun karena benar-benar butuh dan ingin meningkatkan kepercayaan dia berbuat demikian, kedua, dari orang yang baru saya kenal mereka cenderung canggung untuk berkata demikian (saya menunggu hingga detik-detik terakhir soalnya, wkwk), namun sayang sepatah kata itu keluar bukan dari orang yang saya harapkan dan yang lebih menyedihkan, lagi-lagi tidak berbalas.

Benang merah

Arti diri kita bagi orang lain

Orang lain akan lebih menghargai diri kita saat kita mempunyai nilai lebih bagi mereka, apapun itu. Misalnya saja, saat kita mempunyai jabatan yang lebih tinggi, uang yang lebih banyak, ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan dari kita, atau mungkin kita merupakan seseorang yang sangat berarti bagi mereka seperti keluarga, ataupun sahabat.

Ketidakmampuan

Banyak orang yang ingin melakukan sesuatu, namun tidak dapat melakukan karena ketidakmampuan dirinya menggapai hal tersebut. Kalau dalam kasus diatas, mungkin kalau client saya sedikit lebih mapan, dua-tiga sosis bakar tidak akan ada artinya bagi dia, wkwk. Meskipun hal ini tidak terlalu relevan (makanya saya simpan di posisi dua), tidak percaya?

"Betapa indah bunga Tang Di. Selalu bergoyang menarik. Bukan aku tidak mengenangmu, hanya tempatmu terlampau jauh."
Membaca itu Kong Zi bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak memikirkannya benar-benar, Kalau benar-benar, apa artinya jauh?"
Lun Yu Jilid IX:31

Kepastian dan Kejelasan

Saat kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, kita akan mengalami ketidakpastian dan ketidakjelasan. Pada dasarnya, orang akan lebih merasa aware atas hal yang melibatkan dirinya. Misalnya saja dalam kasus kelompok kecil tersebut, partisipan merasa tidak peduli karena pada dasarnya mereka tidak merasa perlu untuk terlibat atau dilibatkan.
Atau dalam contoh yang dekat, perhatikan grup chat yang teman-teman ikuti, dan lihat bagaimana perilaku orang-orang yang sering mengirimkan dan tidak mengirimkan chat, terlihat perbedaan sikapnya?

Setiap orang berbeda

Setiap orang memiliki hal yang unik, karena itulah yang menjadikan kita sebagai manusia. Misalnya saja latar belakang keluarga, pengalaman hidup, pengetahuan dan pendidikan, keuangan yang mencukupi, dsb. Namun, dari learning yang saya dapatkan ternyata latar belakang pendidikan tidak terlalu signifikan berpengaruh pada sikap yang mereka tunjukkan.

Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, sikap diri kita tidak ditentukan oleh seberapa pintar diri kita, namun kepintaran kita seyogyanya terlihat dari bagaimana kita bersikap.

Kong Zi bersabda, "Zaman dahulu orang mempunyai tiga cacat yang sekarang mungkin tidak ada lagi."
"Dahulu, kekerasan hati menunjukkan tidak puas dengan urusan kecil; sekarang, kekerasan hati menunjukkan perbuatan sewenang-wenang.
Dahulu, keangkuhan menunjukkan Kesucian, sekarang keangkuhan menunjukkan perbuatan jahat dan suka marah-marah.
Dahulu, kebodohan menunjukkan kelurusan; sekarang, kebodohan menunjukkan banyak akal busuk."
Lun Yu Jilid XVII:16

Politik

Setiap orang pada dasarnya memiliki kepentingannya (prioritas) masing-masing. Ada yang memprioritaskan dirinya, ada yang mementingkan keluarganya, ada yang menyayangi kekasihnya, ada yang bersama dengan teman seperjalanannya, dsb. Dari bagaimana orang berbicara, lirikan matanya, bahasa tubuhnya, semua terlihat jelas.. sebenarnya.

"Maka dengarlah kata-katanya dan lihatlah orang-orangan matanya. Bagaimanakah orang dapat merahasiakan isi hatinya?"
Meng Zi Jilid IV A:15.2

Memang

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Apakah kita harus melakukannya atau tidak? Apakah kita harus membantunya atau tidak? Kong Zi pernah bilang:

Kong Zi bersabda, "Seorang yang bermewah-mewah, niscaya sombong; seorang yang terlalu hemat, niscaya kikir. Tetapi daripada sombong lebih lumayan kikir."
Lun Yu Jilid VII:36

Hmm.. jadi mendingan pelit kan? wkwk
Memang tidak pernah benar-benar ada jawaban yang tepat, namun setidaknya kita bisa kembali lagi ke benang merah tersebut. Kalau kita merasa seseorang itu penting, kita mampu, dan kita memang benar-benar dibutuhkan, kenapa tidak? Tapi tentu saja, yang paling penting itu diri kita terlebih dahulu (ini memang kebenaran umum). 

Maka Jalan Suci seorang Jun Zi menuntut diri sendiri sebagai pokok. Dinyatakan itu kepada rakyat banyak; diujikan itu kepada hukum Tiga Raja yang lalu itu, agar tiada kesalahan; ditegakkan di antara langit dan bumi sampai tidak berlanggaran; dan dinyatakan itu ke hadapan Tian Yang Maha Roh sehingga tiada keraguan. Maka walaupun harus menunggu beratus zaman serta munculnya seorang nabi baharu, tidak merasa was-was.
Zhong Yong Bab XXVIII:3

Last but not least

Jadi temen-temen, mau melakukan atau tidak? hehehe

Ada orang bertanya, "Dengan Kebajikan membalas kejahatan, bagaimanakah itu?
Kong Zi bersabda, "Kalau demikian, dengan apa engkau dapat membalas Kebajikan?"
"Balaslah kejahatan dengan kelurusan dan balaslah Kebajikan dengan Kebajikan."
Lun Yu Jilid XIV:34

Raka Suryaardi Widjaja

Raka Suryaardi Widjaja

@kokoraka

Raka saat ini bekerja sebagai Software Engineer di perusahaan teknologi pendidikan yang sudah bekerjasama dengan hampir 200an sekolah di Indonesia. Selain itu juga aktif terlibat membangun produk digital dan jasa pembuatan sistem projek pemerintah maupun korporasi.

TulisanIdaman

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya
Sedang memuat..