Semua orang mati tapi tidak semuanya benar-benar hidup

Semua orang mati tapi tidak semuanya benar-benar hidup

Tujuh miliar lebih jiwa manusia di muka bumi dan masih terus bertambah hingga detik ini. Hari berlalu, musim berganti; kisah yang takkan terulang lagi, tawa-candanya menghiasi mega kenanga. Terhenti sampai pada satu titik jemu, kuhentikan langkah kaki ini dan memandang; langit malam indah tersenyum merona. Hari yang sama pada kisah yang sama, hanya dia, dia, dan dia yang membedakan. 

Serius banget bacanya, hahaha

Temen-temen, udah berapa lama kita hidup di dunia? Dua puluh tahun? Empat puluh tahun?
Selama itu, resolusi apa yang udah temen-temen pasang di status facebook atau instastory-nya? ehh.

Mari bercerita

Selama kita hidup, kita akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. 
Tempat tinggal? oh tentu jelas; makan? tidak terlewatkan!
Itu hal-hal umum yang memang terjadi.

Tapi, apakah hanya demikian?
Mungkin! Itu relatif dari bagaimana kita memandangnya (ciee).

Mereka yang bekerja, berangkat pukul lima pagi pulang pukul sembilan malam untuk memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan. Mereka yang sekolah juga tidak kalah hebatnya, mencari kesibukan di luar jam sekolah tidak ingin dikalahkan oleh orang tuanya yang bekerja.

Tapi, apakah hanya demikian?
Mungkin! Itu hal yang biasa kita lakukan.

Coba tanya pada rumput yang bergoyang

Apa temen-temen puas dengan apa yang udah temen-temen lakuin?

Dapet ranking bagus di kelas, masuk PTN, dapet beasiswa, lulus cumlaude, kerja di perusahaan multi-nasional bahkan internasional, punya gebetan tajir, menikah, punya anak, ribut tetangga, ketahuan main mata, hamil 3 bulan, cerai, hidup merasa paling sengsara, dan... mati.

Kalau temen-temen udah ngerasa puas, itu mungkin bagus?
Tapi kalau temen-temen gak puas, jangan disesalin; itu gak mengubah apapun.

"Orang yang lapar puas dengan segala makanan, yang haus puas dengan segala minuman. Hal itu bukan karena ia dapat merasakan makanan atau minuman itu benar-benar, melainkan ia sudah dirusak oleh lapar dan hausnya."

Meng Zi Jilid VII A:27.1

Terbatas

Hidup dimulai dari usia 20, kata sebuah spanduk yang terpasang megah di pelataran jembatan jalan.
Kawan, 20 tahun terakhir ini kita kemana saja?

Mau berapa lama saya hidup di dunia ini? Apa yang sudah saya lakukan dalam hidup ini? Apa yang akan saya lakukan dalam hidup saya? Itu pertanyaan yang muncul dalam benak saya 5 tahun silam.

Nyatanya saya belum berbuat apa-apa, kita belum menghasilkan apa-apa. 
Semangatnya pudar bak tembok rumah terendam banjir di pematang sawah.. habis.

Pandanganku

Bagaimana hendak berbicara masa depan kalau hidup di masa ini masih belum baik? Jangankan berbicara mobil listriknya Tesla atau pesawat ruang angkasanya SpaceX, kalau untuk makan sehari saja sudah hebat?

Itu mungkin betul, tapi jika hanya dijalankan secara serial.
Jika kita hanya melakukannya seorang diri tentu saja itu semua akan sulit dijalankan.

If you want to go fast, go alone; but if you want to go far, go together.
African proverb

Mungkin tidak semua, namun dari banyak orang yang saya temui tidak banyak yang masih dengan bangga menyatakan cita-citanya, menyatakan mimpi-mimpinya, mengatakan dengan lugas semua kekonyolan-kekonyolan pikirannya.

Ya, kita semua paham, hidup itu penuh dengan perubahan, inilah yang kita sebut dengan dinamika hidup.

The only constant in life is change
O'reilly book

Meskipun demikian, sampai saat ini saya masih percaya dengan mimpi-mimpi konyol itu, saya masih ingin percaya dengan kata-kata baik itu, saya masih yakin bahwa kita bisa melakukan hal yang lebih daripada ini. Kalau kata Meng Zi mah,

Kalau ada orang berkata, ia tidak dapat sambil mengempit Gunung Tai melompati Laut Utara, ia sesungguhnya tidak mampu. Kalau ada orang berkata, ia tidak dapat membantu seorang tua mematahkan ranting-ranting pohon, ia sesungguhnya tidak mau, bukan karena tidak mampu.

Meng Zi Jilid I A:7.11

Aku menunggumu..

Kawan.. kehadiranmu memenuhi ruang batinku. 
Culik aku donk :) hahaha

Last but not least

"Hidup memang aku menyukainya, tetapi ada yang lebih kusukai daripada hidup; maka aku tidak mau sembarangan untuk mendapatkannya. Mati, memang aku tidak menyukainya, tetapi ada yang lebih tidak kusukai daripada mati; maka aku tidak mau sembarangan untuk menghindari penderitaan."

Meng Zi Jilid VI A:10.2

 

Raka Suryaardi Widjaja

Raka Suryaardi Widjaja

@kokoraka

Raka saat ini bekerja sebagai Software Engineer di perusahaan teknologi pendidikan yang sudah bekerjasama dengan hampir 200an sekolah di Indonesia. Selain itu juga aktif terlibat membangun produk digital dan jasa pembuatan sistem projek pemerintah maupun korporasi.

TulisanIdaman

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya
Sedang memuat..